:
News Update :
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular posts

Blogger news

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Blogroll

.....SELAMAT DATANG DI KAMPUS STKIP-PGRI KOTA LUBUKLINGGAU........ I'm Proud TO BE A Young Muslim MENUJU KAMPUS MADANI...
Tampilkan postingan dengan label Oase Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase Iman. Tampilkan semua postingan

PESANKAN TEMPAT DI NERAKA

Penulis : SDIT AL QUDWAH on Rabu, 31 Juli 2013 | 14.35

Rabu, 31 Juli 2013

Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi Muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan etika.
Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa terja…ga. Jilbab memang memiliki multifungsi.
Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari Kairo ke Alexandria; di sebuah mikrobus, ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat, karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang ‘perhatian’ kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial.


Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa pakaian yang dikenakannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya sendiri. Disamping itu, pakaian tersebut juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Orang tua itu bicara agak hati-hati, pelan-pelan, sebagaimana seorang bapak terhadap anaknya.
Apa respon perempuan muda tersebut? Rupanya dia tersinggung, lalu ia ekspresikan kemarahannya karena merasa hak privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang!
“Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!”
Sebuah respon yang sangat frontal. Orang tua berjanggut itu hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah. Penumpang lain yang mendengar kemarahan si wanita ikut kaget, lalu terdiam.
Detik-detik berikutnya, suasana begitu senyap. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpi, tak terkecuali perempuan muda itu.
Lalu sampailah perjalanan di penghujung tujuan, di terminal terakhir mikrobus Alexandria.
Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun, tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tidur, karena posisi tidurnya berada dekat pintu keluar.
“Bangunkan saja!” kata seorang penumpang.“Iya, bangunkan saja!” teriak yang lainnya.
Gadis itu tetap bungkam, tiada bergeming.
Salah seorang mencoba penumpang lain yang tadi duduk di dekatnya mendekati si wanita, dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar posisinya berpindah.
Namun, astaghfirullah! Apakah yang terjadi?
Perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi. Ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan neraka!
Kontan seisi mikrobus berucap istighfar, kalimat tauhid serta menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk di sampingnya. Ada pula yang histeris meneriakkan Allahu Akbar dengan linangan air mata.
Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan.Seandainya setiap orang mengetahui akhir hidupnya….Seandainya setiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat…Seandainya setiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk…Seandainya setiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah…
Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbingNya.Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat denganNYA untuk semakin dekat.
Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar…mumpung kesempatan itu masih ada!
Apakah booking tempatnya terpenuhi di alam sana? Wallahu a’lam.
komentar | | Read More...

PUTUSKAN DALAM KONDISI RUHIYAH YANG BAIK

Antara emosi dan nurani. Kadang kejernihan berpikir seseorang dipengaruhi oleh kondisi hatinya. Apakah kala itu sedang emosi ataukah memang benar-benar keputusannya itu berdasarkan nurani. Nurani yang mampu menembus segala sekat-sekat kerancuan persepsi manusia.
Benar kata ustadz Salim, “Adakah yang lebih bening dari suara hati, kala ia menegur kita tanpa suara. Adakah yang lebih jujur dari nurani, saat ia menyadarkan kita tanpa kata-kata. Adakah yang lebih tajam dari mata hati, ketika ia menghentak kita dari beragam kesalahan dan alpa.”
Hari demi hari hidup pasti tidak akan luput dari masalah, entah itu masalah yang kecil ataupun yang besar. Tingkat antisipasi dan kejernihan berpikir serta kelugasan dalam bertindak juga berbeda. Kadang ada masalah besar yang bagi orang lain itu merupakan masalah kecil. Kadang juga ada masalah kecil yang efeknya dirasakan besar oleh orang lain. Tentunya hal tersebut merupakan efek dari kedewasaan berpikir seseorang. Dewasa itu bukan hanya dilihat dari sisi usia saja, akan tetapi bagaimana persepsi dan cara pandang manusia terhadap hidup dan kehidupan ini juga mempengaruhi seberapa jauh ia mampu mengatasi permasalahan tersebut.
Adakalanya keputusan-keputusan yang cepat dibutuhkan untuk menanggulangi efek dari masalah yang menimpa kita. Namun, cepat saja ternyata tidak cukup, harus ada ketepatan prioritas penyelesaian masalah tersebut. Ada seorang sahabat yang pernah berkata kepada saya, kalau kita diminta untuk memilih antara dua pilihan dalam menyelesaikan masalah, apakah diselesaikan dengan cepat atau tepat, ia akan memilih menyelesaikan dengan cepat. Kenapa???
Karena jika solusi yang ia hadirkan belum tepat, ia masih memiliki waktu untuk memperbaikinya dan mencari solusi lain atas permasalahan tersebut.
Lalu, seberapa tepatkah langkah kita dalam mengambil keputusan? Bisa jadi apa yang kita anggap benar dan tepat itu ternyata berdampak buruk di kemudian hari bahkan akan menambah masalah-masalah sampingan berikutnya.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu..” (QS. Al-Baqarah: 216)
Sebaik-baik keputusan adalah keputusan yang diambil saat kondisi ruhiyah kita berada pada posisi terbaik. Dengan amalan-amalan istimewa dan senantiasa men-tarbiyah ruhani, jasadi dan fikriyah secara kontinyu, insya Allah itulah kondisi dimana ruhiyah kita berada pada posisi terbaik. Saat semua amalan dilaksanakan dengan ikhlas, saat tidak ada maksiat yang kita lakukan, saat tidak ada tanggungan masalah akibat perbuatan buruk kita pada orang lain, saat tidak ada orang yang merasa kecewa atas janji-janji kita, saat shalat Dhuha menjadi amalan rutin pagi hari, saat zikir-zikir pagi dan petang senantiasa membasahi bibir kita, saat tidak ada waktu shalat yang kita abaikan, saat tak ada orang yang terzhalimi akibat lisan dan perbuatan kita, saat tak ada rasa iri dengki yang menjadi karat-karat hati, saat qiyamulail menjadi penghangat malam-malam dingin kita, saat lantunan ayat-ayat suci menjadi peneduh hati nan menentramkan, saat itulah dimana kondisi ruhiyah kita berada pada kondisi terbaik.
Saat kondisi ruhiyah kita berada pada kondisi terbaik, insya Allah segala keputusan yang kita ambil merupakan keputusan yang terbaik.
komentar | | Read More...

Hati-Hati Menjalani Hidup

Penulis : SDIT AL QUDWAH on Sabtu, 27 Juli 2013 | 16.02

Sabtu, 27 Juli 2013

Kecelakaan di jalan tol lebih besar dibanding kecelakaan di jalan berbelok-belok, becek atau jalan berlubang. Saya dengar, di jalan tol Padaleunyi saja, dalam setahun, telah terjadi sekitar dua ratus kecelakaan. Angka ini lebih banyak di banding kecelakaan di jalan raya biasa. Begitu pula dalam hidup. Kenyamanan dan keserbacukupan berpotensi melenakan dan menghancurkan. Anak-anak yang dibesarkan dalam suasana serba mudah, lebih rentan tergelincir. Mereka pun cenderung mudah kalah saat di hadapkan pada kondisi sulit. Berbeda dengan anak-anak yang lahir dan dibesarkan dalam kondisi serba sulit. Mereka akan jauh memiliki daya tahan dalam mengarungi hidup. Betapa banyak orang sukses mengawali hidupnya dari kondisi serba darurat. Ketika kesulitan menghadang, mereka akan menghadapinya dengan senyuman. Mengapa? Karena kesulitan sudah jadi “mainan” sehari-hari.
Ibaratnya, hidup serba mudah seperti jalan tol, lurus, rata, konstan dan mudah diprediksi belokannya. Sedangkan hidup serba susah bagaikan berkendaraan di jalan penuh kelokan. Sulit diprediksi, dinamis, menuntut konsentrasi dan kehati-hatian ekstra. Sehingga kecelakaan lebih dapat diminimalisasi.
Kalau kita cermati, ternyata ada kemiripan antara kecelakaan di jalan raya dengan kecelakaan dalam hidup. Khususnya bila dilihat dari penyebabnya. Mari kita lihat.
  1. Ngantuk karena tidak pandai mengukur kemampuan diri. Dalam hidup, kalau seseorang tidak pandai menyikapi hidup dan mengukur kemampuan dirinya, maka ia akan mudah tergelincir
  2. Ugal-ugalan. Orang yang ugal-ugalan dalam hidup, tidak memakai perhitungan matang, tergesa-gesa mengambil keputusan, kehidupannya pasti berantakan.
  3. Nyetir sambil menelepon. Mirip dengan orang yang lalai, tidak waspada dan berdisiplin. Ia kurang bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Akibatnya sungguh fatal.
  4. Ceroboh, tidak terampil menggunakan rem misalnya, mirip orang yang tidak terampil mengendalikan nafsu. Kita dapat menduga apa yang akan terjadi pada orang yang kurang terampil mengendalikan nafsu, hati akan mengeras, susah akur, tamak, dsb.
  5. Tidak memiliki persiapan matang, tidak memeriksa kendaraan sebelum berangkat. Hal ini mengingatkan kita betapa pentingnya melakukan persiapan dan perencanaan matang sebelum beraktivitas. Gagal merencanakan sama artinya dengan merencanakan gagal. Orang yang tidak memiliki perencanaan dalam hidupnya, berpeluang besar untuk gagal.
  6. Belum lancar mengendarai. Dalam hidup, kalau kita tidak terampil dan terlatih menghadapi masalah, akan membuat hidup terasa ruwet dan getir. Di sinilah pentingnya amal yang berkesinambungan di bawah dibimbing seorang pelatih profesional. Dalam hidup, pembimbing kita adalah Alquran dan hadis.
  7. Tidak tahu rambu-rambu lalu lintas, sama artinya dengan tidak memahami aturan hidup yang digariskan agama. Atau, orang yang mengetahui adanya rambu-rambu lalu lintas, namun tidak mau menaatinya.
Kehidupan kita tidak jauh beda seperti seorang yang mengendarai mobil di jalan. Maka berhati-hatilah menjalani kehidupan ini agar kita selamat menuju alam akhirat, seperti kita menghindari kecelakaan di jalan raya.

komentar | | Read More...

KEHIDUPAN ITU IBARAT SEMUT, LABA-LABA DAN LEBAH

Penulis : SDIT AL QUDWAH on Minggu, 15 Januari 2012 | 02.30

Minggu, 15 Januari 2012


Tiga binatang kecil ini menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Qur'an. An Naml [semut], Al 'Ankabuut [laba-laba], dan An Nahl [lebah].
Semut, menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa berhenti. Konon, binatang ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun. Padahal usianya tidak lebih dari setahun. Ketamakannya sedemikian besar sehingga ia berusaha - dan seringkali berhasil memikul sesuatu yang lebih besar dari tubuhnya.
Lain lagi uraian Al-Qur'an tentang laba-laba. Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh [ Al 'Ankabuut; 29:41], ia bukan tempat yang aman, apapun yang berlindung di sana akan binasa. Bahkan jantannya disergapnya untuk dihabisi oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan. Inilah gambaran yang mengerikan dari kehidupan sejenis binatang.
komentar | | Read More...

Singa atau Kucing...??

Penulis : SDIT AL QUDWAH on Kamis, 01 Desember 2011 | 09.48

Kamis, 01 Desember 2011

Ada sebuah ungkapan yang menarik dari seorang ikhwah, kebetulan seorang aktivis dakwah kampung, “aktivis dakwah kampus (ADK) ketika di kampus seperti singa, garang. Tetapi ketika pulang kampung berubah menjadi kucing, tidak lagi garang” ungkap beliau sambil bergurau. Ikhwah fillah, kalau kita mau jujur, ungkapan sang ikhwah tadi ada benarnya juga. Kita memang sering menjadi singa yang garang ketika di kampus tetapi menjadi kucing manis dan imut-imut ketika di rumah.

Fenomena singa yang garang ketika di kampus tetapi menjadi kucing manis dan imut-imut ketika di rumah, terjadi disebabkan karena beberapa faktor, diantaranya, pertama: faktor eksternal (lingkungan), kita sebagai seorang ADK dengan segala aktivitas dakwahnya di kampus, mulai dari menjadi masul lembaga, murobby, penulis produktif, panitia kegiatan sampai korlap aksi, ternyata ketika kita pulang kampung (baik beberapa hari saja maupun permanen), menghadapi situasi dan kondisi yang sama sekali berbeda dengan dunia kampus, kita seolah-olah memasuki “dunia lain”. Ketika di kampus masyarakat kampus dengan terbuka bisa menerima dan memahami tampilan dan atribut ke Islaman kita. Berbeda dengan di kampung, berjenggot tanpa kumis, berjilbab longgar plus kaus kaki, tidak berjabat tangan dengan selain mahrom, perbedaan furuiyah pada masalah fiqh ibadah dam lain sebagainya oleh masyarakat kampung dianggap sebagai sebuah “masalah besar”. Jika hal ini tidak disikapi dengan bijak maka bisa menimbulkan konflik yang akhirnya membuat kita “mati kutu”. Oleh karena itu kita membutuhkan pemahaman tentang fiqh dakwah, fiqh waqi’, fiqh awlawiyat dan fiqh muwazanat.

Selain faktor eksternal, yang membuat kita jadi kucing. Yang kedua: secara internal, tarbiyah dzatiyah kita lemah, ketika dikampus kita berkumpul dengan sesama ikhwah, kita jadi termotivasi untuk sholat berjamaah,tilawah qur’an,membaca buku islam, sampai sholat malam sekalipun, tetapi ketika di kampung itu semuanya menjadi berat, bisa jadi ketika sholat dhuhur di masjid kampung kita, kita jadi muadzin,imam sekaligus ma’mum alias sendirian. Selain itu di rumah adalah saat yang tepat untuk perbaikamn gizi dan istirahat total. Sehingga aktivitas-aktivitas positif dan amalan sunnah yang biasa kita lakukan ketika di kampus terlewatkan dan tergantikan dengan aktivitas mubah yan berlebihan. Sehingga kalau tidak kita manage dengan baik, pulang kampung adalah saat yang tepat untuk “bermalas diri” untuk sementara. Sehingga kalau semua ini terjadi maka alih-alih berdakwah kepada lingkungan di kampung kita, berdakwah kepada keluarga kita menjadi suatu hal yang berat dan sulit. 
komentar | | Read More...

Ketika Cemburu Menghiasi Ikatan

Penulis : SDIT AL QUDWAH on Jumat, 07 Oktober 2011 | 02.08

Jumat, 07 Oktober 2011


Oleh Nha2
Bismillah…
Katanya, cemburu itu tanda cinta. Ketika seseorang mencintai seseorang yang lain karena fitrahnya, kerapkali diselingi rasa cemburu yang satu kepada yang lainnya. Sebabnya banyak. Intinya, takut kehilangan, begitu katanya. Cemburu tidak akan muncul bilamana tidak ada suatu hubungan antara yang satu dengan yang lainnya.
Laki-laki itu terdiam saja sudah beberapa hari belakangan. Melihat itu, sang perempuannya tidak bertanya apa-apa, dia sudah mengerti. Perasaannya bisa menangkap gelagat suaminya itu. Dia sedang cemburu. Sang isteri merasa sangat sedih, hatinya seakan-akan turut merasakan hal yang sama terhadap suaminya, ya, karena ikatan di antara mereka berdua.
“Ayah…” Perempuan itu tersenyum lembut sambil berbisik memanggil laki-laki yang sedang termenung itu.
komentar | | Read More...

Bacaan Gue bange ...t !!!

Penulis : SDIT AL QUDWAH on Sabtu, 17 September 2011 | 01.16

Sabtu, 17 September 2011

Inspirasi dari diri yg lemah ini Al Fath dan sahabat ku Eko Sutrisno + tambahan baca2 artikel. warung bakso Malam sabtu,
Bingung mulai dari mana,...ehm ya sudah lah...coba zoom hati dengan lensa Iman..
Semoga diri yg hina ini bisa memberikan sedikit pencerahan. meski ana paham ilmu antum dan pengetahuan antum semua jauh lebih baik izinkan tulisan ini mengantarkan kita untuk saling mengingatkan....

“Dia ikhwan ya? Tapi kok kalau bicara sama akhwat dekat sekali???,” tanya seorang akhwat kepada temannya karena ia sering melihat seorang aktivis LDK yang bila berbicara dengan lawan jenis, sangat dekat posisi tubuhnya.“Mbak, akhwat yang itu sudah menikah? Kok akrab sekali sama ikhwan itu?,”tanya sang mad’u kepada murabbinya karena ia sering melihat dua aktivis LDK itu kemana-mana selalu bersama sehingga terlihat seperti pasangan yang sudah menikah.”Duh? ngeri, lihat itu? ikhwan-akhwat berbicaranya sangat dekat??,” ujar seorang akhwat kepada juniornya, dengan wajah resah, ketika melihatikhwan-akhwat di depan masjid yang tak jauh beda seperti orang berpacaran.”Si fulan itu ikhwan bukan yah? Kok kelakuannya begitu sama akhwat?,” tanya seorang akhwat penuh keheranan.
komentar | | Read More...

Episode Sakit, Episode Cinta

Oleh Najmi Haniva

Beberapa hari ini aku sakit. Penyakit yang sama dengan ibuku. Pencernaan. Aku juga demam dan batuk. Sungguh menyiksa. Kepala berat luar biasa. Tak mau makan. Tak enak tidur. Badanku panas sekali rasanya. Entahlah, apa karena pola makanku yang tak teratur lagi usai puasa Ramadhan. Segalanya mau dimakan. Hampir tak ada jeda untuk istirahat bagi pencernaanku. Dan puncaknya penyebabnya adalah aku makan pedas. Sambal. Sudah tahu pedas adalah musuhku. Tetapi diriku, selalu zalim pada diri sendiri. Aku menyesal.
Maka pantaslah diriku mendapat akibatnya. Sakit dan menderita. Makan sedikit sudah mual-mual. Apalagi minum air putih, benar-benar mau dimuntahkan. Periksa ke dokter sudah. Minum obat pun sudah. Namun perubahannya sedikit saja. Belum bisa makan agak banyak dan minum. Aku kekurangan cairan. Semuanya jadi kacau.
komentar | | Read More...

Tempe dan Telor Gosong

Penulis : SDIT AL QUDWAH on Kamis, 15 September 2011 | 00.44

Kamis, 15 September 2011


Dua puluh tahun telah berlalu, namun masih terbayang jelas kenangan indah itu:

Suatu malam, ibu yg bangun sejak pagi, bekerja keras sepanjang hari, membereskan rumah tanpa pembantu, jam tujuh malam ibu selesai menghidangkan makan malam untuk ayah yang sangat sederhana berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambal teri dan nasi.

Sayangnya karena mengurusi adik yang merengek, tempe dan telor gorengnya sedikit gosong! Saya melihat ibu sedikit panik, tapi tdk bisa berbuat banyak, minyak gorengnya sudah habis. Kami menunggu dengan tegang apa reaksi ayah yang pulang kerja, pasti sudah capek melihat makan malamnya hanya tempe dan telur gosong.

Luar biasa ! Ayah dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan ibu dengan tersenyum, dan bahkan berkata, "Bu terima kasih ya!" Lalu ayah terus menanyakan kegiatan saya & adik di sekolah.
komentar | | Read More...

Ukhti, Yang Terbaik Telah Dipersiapkan Untuk Mu

Semakin Resah Kurasa
Tatkala dia tak kunjung datang
Harus sampai kapan aku bersabar
Bersabar dalam penantian yang panjang

Keresahan dan kegundahan tak dipungkiri akan selalu hadir bersama godaan syaitan tatkala merenungi sebuah penantian. Tentunya keistiqamahan adalah sebuah penantian panjang yang akan menemani perjalanan dan untuk meruntuhkan ini syitan terbaiklah yang akan dikirimkan karena ini berkaitan dengan kesempurnaan bukan penantian yang sia-sia.

Akan banyak kisah perjuangan yang akan dilalui bersama ujian keistiqamahan ini. Kisah perjuangan yang akan menjadi nostalgia-nostalgia indah ketika berada di Jannah bersama senyuman indah yang membuat pipi merah merekah.

Tapi kemudian tak sedikit yang harus merelakan kisah-kisahnya harus berakhir dengan mengubah skenario yang seharusnya mempunyai ending yang indah dan membuat tersenyum Allah. Semoga Allah subhanahuwata’ala menjaga kita semua dari godaan yang dapat merubah skenario indah.
komentar | | Read More...

Dengan Jamaah Mana Anda Menggabungkan Diri?


Di Indonesia ramai aktivis dakwah melakukan amal Islami dengan berbagai wadah. Wadah yang berbentuk Jamaah itu, karenanya menjadi tempat berhimpun para aktivis dakwah. Para aktivis dakwah memilih masuk ke dalam sebuah Jamaah, tentu disertai dengan berbagai alasan dan pendapat.
Di dalam al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang mewajibkan bergabung dalam sebuah Jamaah. Jamaah adalah sarana (wasilah) bukan tujuan (ghoyah), yang akan menjadi tempat berhimpunnya para aktivis dakwah, secara bersama-sama melakukan amal jama'i, dan dilandasi nilai-nilai Rabbaniyah, ruhul ukhuwah dan mahabbah (cinta) yang mendalam, dan memiliki komitmen bersama mencapai cita-cita tujuan.
Tetapi, banyak aktivis dakwah yang berhimpun dalam Jamaah terjangkiti berbagai "penyakit", dan berhimpunnya para aktivis dakwah ke dalam Jamaah, justru melahirkan berbagai fitnah. Adakah ini kesalahan manhaj (methode) dakwahnya atau para aktvisnya yang meninggalkan manhaj yang menjadi thoriqoh (jalan) gerakannya. Sehingga, potensi-potensi yang dimiliki para aktivis dakwah menjadi mubazir, dan kemudian terpecah-pecah ke dalam firqoh-firqoh.
komentar | | Read More...

Maksiat Kok Bangga ?

Penulis : SDIT AL QUDWAH on Minggu, 11 September 2011 | 23.57

Minggu, 11 September 2011



Manusia memang tidak lepas dari salah dan lupa. Opsi terbaik saat kita khilaf adalah sesegera mungkin bertobat, bersungguh-sungguh menyesali dosa kita, tidak mengulanginya lagi dan banyak beramal saleh dengan harapan agar amal saleh tersebut dapat menghapus dosa yang pernah kita perbuat.
But, the problem is, kadangkala, ada seseorang yang dengan bangganya menceritakan kelamnya masa lalu atau aib yang pernah ia lakukan.
Mungkin kita pernah mendengar seseorang bercerita–dengan santai dan cekakak-cekikik- tentang list aib-aibnya, seperti kalimat di bawah ini:
“Saya pernah pacaran dengan si A dan si B lho, bla… bla… bla”. “Gue dulu suka minum miras, merk A dan merk B mah sudah jadi langganan Gue…”
Hei… bukankah pacaran dan mabuk miras itu dosa? Lantas kenapa mesti diceritakan dengan penuh kebanggaan? Bukankah dosa-dosa itu semestinya disimpan rapat, tak usah ada yang tahu. Jika perlu, simpan dosa-dosamu dalam brankas dan buang ke laut. Aneh bukan, bermaksiat koq bangga.
Ada aturan yang mesti kita pahami, bahwa dosa adalah hal yang memalukan jadi tak perlu ada “press conference”. Segatal apapun mulut kita ingin mengumbar dosa masa lalu, it’s enough, tidak layak kita ceritakan pada orang lain.
komentar | | Read More...

Bala Tak Pernah Mendahului Sedekah


 
Seperti hari-hari sebelumnya, saya diantar suami berbelanja ke sebuah tempat dimana tukang sayur biasa berkumpul. Bukan pasar, hanya sebuah jalan yang ramai dilalu orang dan ada sekitar empat gerobak sayur disana. Mobil pun diparkir di tempat yang aman.
komentar | | Read More...

Muslimah yang Didamba, Seperti Apa Sih?


Yang lelaki tampan, punya pekerjaan mapan dengan gaji tiap bulan lebih dari cukup, bahkan berlimpah untuk ukuran materi, berpendidikan tinggi. Berasal dari keluarga baik-baik. Pun demikian, yang perempuan cantik, cerdas, berpendidikan tinggi. Menikah dan mempunyai putra-putri yang cerdas-cerdas pula.

Sudah sunnatullahnya begitu, cikal bakal dari kedua orang tuanya yang tak punya cacat
sosial mendidiknya, maka tak hanya cerdas dan tampan-cantik, tapi juga humanis. Sempurna, demikian orang menyebut keluarga itu.
Sudah baik rupa, baik budi, dan kaya pula. Keluarga harmonis, demikian para pakar parenting menganalisanya, karena azas saling mendengar dan saling memahami menjadi landasan utama, yang kuncinya adalah komunikasi.
komentar | | Read More...

S2 atau Nikah ?



Oleh Riri Artakusuma

Ketika sedang asyik-asyiknya berselancar dalam tulisan tiba-tiba nada ringtone tanda sms masuk berbunyi...

From: Echa
Apr 15, 2011 20:45
“Teh, menurut teteh perempuan lanjut S2 gimana? Ada yang bilang, kuliah terus kapan nikahnya?”
Saya tersenyum. Sejenak berhenti melanjutkan jemari ini untuk menekan huruf-huruf yang tertera di keyboard sambil mengalihkan jemari ke handphone untuk membalas sms Echa tadi, “Haha... kenapa dipusingin? Berapa banyak perempuan S2 juga nikah. Ada yang sambil, ada yang sebelum dan ada yang sesudah S2. Semua it's ok aja...”
Tak lama kemudian, sms balasan dari Echa kembali saya terima, “Iya juga ya teh, hehe... Mohon doanya ya Teh insyaAllah tanggal 8 Mei aku ujian masuk S2 kenotariatan di UNDIP. Sekarang gak mau ambil pusing. Makasih Teteh...”, diakhiri wajah senyum, Echa menyudahi pertanyaannya melalui sms, namun saya kembali membalas sms nya...
komentar | | Read More...

Bukan Kisah Cinta Sejati



Oleh Najmi Haniva

Sebesar apa pun cinta kepada seorang lelaki, jika ternyata bukan jodoh, maka tak akan berlangsung sangat lama cinta itu. Kisah demi kisah akan bergulir. Berganti satu persatu. Sesuai kisah cinta yang tengah terjadi pada suatu masa. Mungkin pada kisah ini perasaan begitu diliputi cinta yang membuncah.
Memikirkan hingga melayang di awan. Bahagia tiada tara hanya dengan membayangkan wajahnya. Bertemu dengannya bisa membawa senyum hingga berhari-hari. Senyumnya selalu tergambar di angan-angan. Semua menjadi indah dengan cinta pada dia. Berharap dialah yang menjadi takdir jodoh. Bahkan mungkin telah yakin. Berdua bersama menuju ikatan suci. Tapi, jika tak jodoh, hilang segala indah.
komentar | | Read More...

Syahrut Tarbiyah Pasca Ramadhan

Alhamdulillah, sebulan bersama Ramadhan sudah berlalu. Ada sebagian kaum muslimin senang, karena tradisi menahan lapar dan haus selesai. Mereka merayakan kesudahan berpuasa bagaikan seorang anak kecil yang menganggap puasa sekedar bicara lapar dan haus.
Bagi mereka, kesudahan berpuasa menjadi impian terindah. Tidak heran, ketika akhirnya puasa menjelang akhir yang diributkan bukan bagaimana menghabiskan sepuluh hari terakhir dengan itikaf. Mereka lebih berpikir apakah baju lebaran sudah dibeli dan apakah uang THR sudah turun.
Tidak jarang, banyak terjadi kesempatan mudik menjadi momentum untuk tidak berpuasa. Konsepsi ini sangat memprihatinkan karena mempersempit makna hari kemenangan dimana takbir menggema. Idul Fitri dimaknai sebagai takbiran keliling kota, petasan dan melepas kepenatan berpuasa. Semoga kita dijauhkan dari perilaku seperti itu.

Tapi fenomena sebaliknya justru terjadi pada sebagian kaum muslimin. Bagaimana tidak, bulan pembinaan kesucian hati, pikiran dan pribadi terlewati. Sebuah bulan yang seperti digariskan Rasulullah. “Dalam bulan biasa, pahala setiap kebajikan dilipatgandakan 10 kali lipat, namun dalam bulan Ramadhan pahala amalan wajib dilipatgandakan 70 kali lipat dan amalan yang sunah disamakan dengan pahala amalan wajib di luar Ramadhan." (HR Muslim)
komentar | | Read More...

Nasionalisme Kita Bukan Sekedar Kata

Tokyo, 18 Ramadhan 1432H. Malam ini kami sholat taraweh di rumah setelah sore tadi Haidar bilang malas untuk pergi ke mana-mana dan meminta buka puasa di rumah saja. Sebenarnya sore ini kami berencana melanjutkan “safari masjid” ke Yoyogi Uehara. Di sana ada masjid Tokyo yang berdiri megah dan indah, mungkin inilah mesjid yang paling besar di Tokyo ini.
Masjid ini didirikan dan dikelola oleh kedutaan besar Turkey di Tokyo, sebagai bagian dari alat promosi budaya mereka. Turkey menyadari betul sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim, masjid menjadi salah satu symbol budaya turkey. Tidak sedikit orang Jepang yang awalnya hanya datang untuk melihat-lihat keindahan masjid ini menjadi ingin tahu lebih jauh tentang Islam dan kebudayaan Islam. Dan hampir setiap bulan selalu saja ada orang Jepang yang masuk Islam di masjid ini.
komentar | | Read More...

Maafkan Aku, Aisyah!

Penulis : SDIT AL QUDWAH on Senin, 09 Mei 2011 | 00.34

Senin, 09 Mei 2011


KotaSantri.com - Yosi keluar dari ruang seminar dengan wajah cemberut. Dibelakangnya Aisyah bergegas menyusulnya."Yosi!Tunggu!" panggil Aisyah khawatir. Yosi tak menggubris. Ia nampak marah pada Aisyah.

"Saya tidak bisa mendampingimu di LDKS nanti. Saya yakin kamu mampu. Kehadiran saya tidak berpengaruh apa-apa?" ujar Aisyah.
komentar | | Read More...

Menikmati Proses

Setiap manusia yang lahir ke dunia ini mempunyai jalan dan aktivitas masing-masing, sehingga terkadang suatu ketentuan yang telah Allah tetapkan, sering menjadi alasan bagi orang-orang yang malas dalam beraktivitas.

Hanyalah orang-orang yang selalu tepat, terencana dan memulai saat itu juga, itulah orang-orang yang akan menikmati perjalanan dari sebuah proses.
komentar | | Read More...
 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. LDK - KEMAS . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger